Fkg.umsida.ac.id – Bulan Ramadan identik dengan berbagai hidangan berbuka yang menggugah selera.
Salah satu makanan yang hampir selalu hadir di meja takjil adalah gorengan.
Mulai dari bakwan, tahu isi, hingga pisang goreng menjadi pilihan favorit masyarakat setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Namun, di tengah kebiasaan tersebut muncul pertanyaan yang sering dibicarakan, apakah benar makan gorengan dapat membuat gigi lebih cepat rusak?
Pertanyaan ini dijawab oleh drg Eka Setyawardana SpOrt yang menjelaskan bahwa kerusakan gigi sebenarnya tidak hanya dipengaruhi oleh jenis makanan tertentu.
Menurutnya, faktor utama yang menentukan kesehatan gigi adalah bagaimana seseorang merawat dan membersihkan giginya setelah makan.
Ia menegaskan bahwa banyak masyarakat yang salah memahami penyebab gigi berlubang.
Gorengan sering dianggap sebagai penyebab utama, padahal yang lebih berpengaruh adalah sisa makanan yang menempel di gigi dan tidak dibersihkan dengan baik.

Makanan dan Risiko Kerusakan Gigi
Dokter gigi Eka menjelaskan bahwa gigi berlubang atau karies terjadi ketika terdapat penumpukan sisa makanan di permukaan gigi.
Penumpukan tersebut akan menjadi tempat berkembangnya bakteri yang kemudian menghasilkan asam dan merusak lapisan gigi.
“Sebenarnya makan makanan apa pun, tidak hanya gorengan, itu tergantung bagaimana cara kita merawat gigi. Karies atau lubang gigi terjadi ketika ada akumulasi sisa makanan yang tidak dibersihkan dengan baik,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa sisa makanan yang menempel dalam waktu lama dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kerusakan gigi.
Kondisi ini tidak bergantung pada apakah makanan tersebut digoreng, manis, atau jenis makanan lainnya.
Dengan kata lain, gorengan bukanlah penyebab langsung gigi cepat rusak.
Faktor yang lebih menentukan adalah kebersihan mulut setelah mengonsumsi makanan.
Baca Juga : Rapat Akademik Persiapan Semester Genap 2026/2027 FKG Umsida Perkuat Kesiapan Perkuliahan
Kebiasaan Makan Saat Puasa dan Kesehatan Gigi
Pada bulan Ramadan, pola makan masyarakat biasanya berubah.
Banyak orang memilih makanan yang praktis dan mengenyangkan saat berbuka puasa, termasuk gorengan.
Hal ini membuat konsumsi makanan berminyak sering kali meningkat dibandingkan hari biasa.
Menurut dokter gigi Eka, kebiasaan ini sebenarnya tidak menjadi masalah selama kebersihan gigi tetap terjaga.
Ia menjelaskan bahwa yang perlu diperhatikan adalah sisa makanan yang menempel pada gigi setelah makan.
“Ketika terjadi perlekatan sisa makanan dan tidak ada pembersihan yang baik, itulah yang menjadi kunci terjadinya lubang gigi,” ujarnya.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan kebersihan mulut setelah berbuka puasa.
Apalagi pada waktu tersebut biasanya seseorang mengonsumsi berbagai jenis makanan sekaligus, mulai dari makanan manis hingga gorengan.
Lainnya : Food Waste Justru Meningkat saat Ramadan, Ini 6 Faktor Penyebabnya Menurut Dosen Umsida
Pentingnya Membersihkan Gigi Setelah Makan
dokter gigi Eka menyarankan agar masyarakat meningkatkan perhatian terhadap kebersihan gigi, terutama selama bulan puasa.
Jika biasanya seseorang menyikat gigi dua kali sehari, kebiasaan tersebut tetap perlu dipertahankan atau bahkan ditingkatkan sesuai kebutuhan.
Ia juga menyinggung bahwa masih terdapat perdebatan di masyarakat mengenai boleh tidaknya menyikat gigi saat puasa.
Menurutnya, hal tersebut dapat disesuaikan dengan keyakinan masing-masing individu.
Menjaga kebersihan gigi setelah makan, terutama setelah berbuka puasa, menjadi langkah sederhana yang dapat membantu mencegah terjadinya karies atau gigi berlubang.
Pada akhirnya, konsumsi gorengan saat puasa tidak serta-merta membuat gigi cepat rusak.
Selama kebersihan mulut tetap dijaga dan sisa makanan tidak dibiarkan menumpuk di gigi, risiko kerusakan gigi dapat diminimalkan.
Kebiasaan sederhana seperti menyikat gigi secara rutin dan menjaga pola makan tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut selama Ramadan.
Penulis : Alifiah Mulia Wulandari











